Senin, 29 Desember 2008

ANECDOTE..................

UANG PALSU...!
"TURUN!!serahkan uang yang ada di koper yang kamu bawa!!!! dua orang perampok menghentikan mobil yang melaju sambil menodongkan pistol.
"KOPERNYA SAJA MAS" ? tanya korban .

"YANG OON TUH AKU APA KAMU SIH? Di mana - mana tuh perampok pasti ngerampok uang + kopernya. Ntar kalo uang nya dah habis jual kopernya kan juga bisa dapat duit.

" NIH MAS AMBIL SEMUA , AKUN IKLAS TERUS AKU JUGA NGGAK AKAN LAPOR POLISI". OK
" Baru kali ini korbannya udah cantik kaya, dan baik hati.Dimana sih kerjanya MBAK? Masih ada lowongan gak buat aku?

" Aku tuh pengedar uang palsu kalo masalah lowongan kerja masih buat jadi model gambar uang GOPEKKAN. MAU.?????????

-TAKE DESIRE=-

When the eyes to be overcast
i stell in daydream
Beside the windows
while look at the moon
my heart be calm
Figur out to make moon and star
Granted my intention,take my desire
To my religion and my nation
Then i take the water
i wearmy With songkok
I say pray,I lift my hand
MY pray just to Allah
In my heart have to say

"DON'T rEQUEST if youm don't EXERT"!!!!!

puisi lagi,.......!!!!!

jika mata adalaH cahaya
maka hati adalah permata
saat bahagia merona
maka tawa adalah warna
jika senyum adalah ibadah
maka cinta anugerah paling indah
cinta tiada berkeinginan selain mewujudkan maknanya
namun jika engkau mencinta disertai berbagai keinginan
wujudkanlah ia jadi keinginanmu
Meluluhkan diri mengalir bagai air sungai
yang menyanyikan lagu persembahan malam
mengenali kepedihan kemesraan yang terlalu dalam

puisi

cinta bukan mimpi tapi harapan
bukan apa yang didapat tapi yang diberikan
bukan apa yang dilihat tapi yang dirasa
Trasa dekat walau jauh
Trasa ada walaupun tiada
cInta bukan puisi tapi kata hati
milikilah sebuah hati yang tak membenci
sebuah senyuman yang tak pernah pudar
sebuah sentuhan yang tak pernah menyakiti
Sebuah persahabatan yang tiada akhir
jiwa akan sepi tanpa teman
hati akan mati tanpa cinta
semalam adalah manis pahit jadikan kenangan
maka awali harimu dengan senyuman & harapan

Rokok!!!!!!!!

Rokok!!!!sebuah benda yang tak asing lagi di dunia ini.Semua orang,khusussnya bagi kaum laki-laki rokok merupakan kebutuhan pokok yang apabila tidak dipenuhi maka akan timbul masalah.Namun dari rokok itu menimbulkan berbagai banyak kerugian.Adapun kerugiannya sbb:
1.Menyebabkan kanker
2.Menyebabkan impoten
3.menyebabkan serangan jantung ganguan kehamilan dan janin
4.menyebabkan kulit cepat keriput
Itu sedikit dampak negatif dari rokok.Sebaiknya kita tidak mengkonsumsi rokok agar hidup bisa lebih sehat dan panjang umur.

Proses pengolahan minyak bumi

Minyak bumi bukan merupakan senyawa homogen, tapi merupakan campuran dari berbagai jenis senyawa hidrokarbon dengan perbedaan sifatnya masing-masing, baik sifat fisika maupun sifat kimia.

Proses pengolahan minyak bumi sendiri terdiri dari dua jenis proses utama, yaitu Proses Primer dan Proses Sekunder. Sebagian orang mendefinisikan Proses Primer sebagai proses fisika, sedangkan Proses Sekunder adalah proses kimia. Hal itu bisa dimengerti karena pada proses primer biasanya komponen atau fraksi minyak bumi dipisahkan berdasarkan salah satu sifat fisikanya, yaitu titik didih. Sementara pemisahan dengan cara Proses Sekunder bekerja berdasarkan sifat kimia kimia, seperti perengkahan atau pemecahan maupun konversi, dimana didalamnya terjadi proses perubahan struktur kimia minyak bumi tersebut.

Rantai Hidrokarbon Minyak Bumi

Seperti kita kitahui dalam Kimia Organik bahwa senyawa hidrokarbon, terutama yang parafinik dan aromatik, mempunyai trayek didih masing-masing, dimana panjang rantai hidrokarbon berbanding lurus dengan titik didih dan densitasnya. Semakin panjang rantai hidrokarbon maka trayek didih dan densitasnya semakin besar. Nah, sifat fisika inilah yang kemudian menjadi dasar dalam Proses Primer.

Jumlah atom karbon dalam rantai hidrokarbon bervariasi. Untuk dapat dipergunakan sebagai bahan bakar maka dikelompokkan menjadi beberapa fraksi atau tingkatan dengan urutan sederhana sebagai berikut :

1. Gas
Rentang rantai karbon : C1 sampai C5
Trayek didih : 0 sampai 50°C
Peruntukan : Gas tabung, BBG, umpan proses petrokomia.

2. Gasolin (Bensin)
Rentang rantai karbon : C6 sampai C11
Trayek didih : 50 sampai 85°C
Peruntukan : Bahan bakar motor, bahan bakar penerbangan bermesin piston, umpan proses petrokomia

3. Kerosin (Minyak Tanah)
Rentang rantai karbon : C12 sampai C20
Trayek didih : 85 sampai 105°C
Peruntukan : Bahan bakar motor, bahan bakar penerbangan bermesin jet, bahan bakar rumah tangga, bahan bakar industri, umpan proses petrokimia

4. Solar
Rentang rantai karbon : C21 sampai C30
Trayek didih : 105 sampai 135°C
Peruntukan : Bahan bakar motor, bahan bakar industri

5. Minyak Berat
Rentang rantai karbon dari C31 sampai C40
Trayek didih dari 130 sampai 300°C
Peruntukan : Minyak pelumas, lilin, umpan proses petrokimia

6. Residu
Rentang rantai karbon diatas C40
Trayek didih diatas 300°C
Peruntukan : Bahan bakar boiler (mesin pembangkit uap panas), aspal, bahan pelapis anti bocor.

Atas dasar kondisi seperti itulah kemudian pada kenyataannya dalam pengolahan minyak bumi lebih memegang patokan kepada trayek titik didih daripada komposisi atau rentang rantai karbonnya. Sehingga pada batas antara fraksi pasti akan terjadi overlap (tumpang tindih) fraksi. Overlap ini kemudian disebut sebagai minyak slops yang nantinya akan berfungsi sebagai bahan pencampur untuk mengatur produk akhir sehingga memenuhi spesifikasi atau baku mutu yang ditentukan.

Proses Primer

Minyak bumi atau minyak mentah sebelum masuk kedalam kolom fraksinasi (kolom pemisah) terlebih dahulu dipanaskan dalam aliran pipa dalam furnace (tanur) sampai dengan suhu ± 350°C. Minyak mentah yang sudah dipanaskan tersebut kemudian masuk kedalam kolom fraksinasi pada bagian flash chamber (biasanya berada pada sepertiga bagian bawah kolom fraksinasi). Untuk menjaga suhu dan tekanan dalam kolom maka dibantu pemanasan dengan steam (uap air panas dan bertekanan tinggi).

Senin, 22 Desember 2008

Ponorogo is beautiful city,!!Itulah kiranya patut untuk kota Ponorogo yang kenyataannya memang benar-benar adem,indah dan asri akan keindahan isi kotanya.Aku bangga dilahirin dan sebagai masyarakat Ponorogo.
Di kota Ponoroga menyimpan banyak misteri akan keindahan dan budayanya.Banyak sekali tempat-tempat yang indah didalamnya,tapi sayangnya belum diketaui saja oleh masyarakat luas.
Tiada kata yang indah lagi untuk kota Ponorogo kecuali indah banget,dan bangga akannya...

Guys....

Di sekolahku aku punya banyak temen.Banyak sekali n bermacam-macam sikap n sifatnya.Ada temenku yang cantik,tapi cuentil,da yang manis tapi sombong,da yang pendiem tapi ternyata sperti ular klau diluar.Truz da yang alim kucing,da lagi yang ckep tpi bloon,n masih banyak n bermacam-macam lagi yang lainnya.
Ada satu temenku yang baek ke aku,tapi gak tau dia skarang agak ngejauhin aku.Entah karena apa aku juga gak tau.Eh ada juga yang kerjaannya cuma sms ja tau telfon mlulu.Pokokmnya temen aku lengkap banet dari yang pendiem sampai yang paling usill.
Semenjak aku punya pacar yang anak-anak ketahui ,aku jdi agk krepotan nanggepin omongan mereka semua.Tapi semua itu gak ku pedulikan,yang penting aku enjoi ja.!!
Ada juga temen ku yang ska ma ku,tapi yach skedar buat temen ja gak lebih dari temen pokoknya.Tapi skapnya tu yang buat aku geram.Dya jealouz banget wktuku lgi dketan ma si honeyku.Ya tpi gak pa dech yang penting gak da msalah yang berarti.

Kabar Bangsa Tikus

Keluarga kami, aku dan bangsaku sudah lama tinggal di sini, sebuah rumah yang sudah tua. Mungkin orang tuaku dan nenek moyangku semuanya lahir di sini. Kami adalah asli penghuni rumah ini, namun kami dianggap perusuh oleh bangsa manusia. Dan mereka itu dengan sewenang-wenangnya mendzalimi bangsa kami. Oh ya, kamu mungkin tidak asing lagi dengan aku, keluarga bangsa tikus. Orang tuaku memberi aku nama Mikcy. Nama yang lumayan keren, kan? Aku punya pacar, dia juga dari bangsa tikus, namanya Minny. Kalau soal pacarku, tidak perlu aku ceritakan di sini.

Kami mempunyai juga teman-teman dari keluarga lain, yang mereka juga menjadi penghuni rumah ini. Ada keluarga dari bangsa kecoa, ada keluarga dari bangsa laba-laba, keluarga dari bangsa semut, keluarga dari bangsa nyamuk, keluarga dari bangsa cicak, keluarga dari bangsa kuman dan lain-lain.

Kami semua merasa berhak untuk tinggal di sini. Walau pun keberadaan kami sebenarnya tidak disukai oleh bangsa manusia. Kami yang kecil-kecil ini selalu dimusuhi habis-habisan oleh bangsa manusia. Bangsa manusia itu tidak henti-hentinya memerangi kami. Mentang-mentang mereka lebih besar. Kami dianggap biangnya jorok. Mentang-mentang mereka sok kuat, sehingga bertindak semena-mena terhadap kami.

Mereka memelihara bangsa pemangsa Si Predator, Thomas Si Kucing Garong, bahkan Pluto Si Anjing Galak, yang bertampang seram itu. Mereka berdua ditugaskan oleh bangsa manusia untuk memberantas bangsa kami. Keberadaan mereka membuat kami tidak tenang. Thomas dan Pluto tentu sudah siap memburu kami bila kami tampak oleh mata mereka. Mereka rupanya hanya ingin mendapatkan puji sanjungan dari bangsa manusia itu, bila berhasil memamerkan buruannya. Padahal kalau soal makanan mereka sudah lebih dari berkecukupan, karena setiap hari mendapat jatah dari pemeliharanya (bangsa manusia). Kami harus ekstra hati-hati untuk mengambil rejeki yang menjadi bagian kami. Mereka (bangsa manusia) pun memasang perangkap untuk kami. Ada teman-teman kami yang sedang kelaparan, dia mendapati makanan lezat, dia pun tergoda, namun malang nasibnya, makanan itu adalah perangkap. Dia pun akhirnya harus mati terjepit di kawat jepretan itu.

Bapak dan ibuku pun mati gara-gara perangkap bangsa manusia laknat itu. Suatu hari mereka bekerja mencari rejeki. Ibuku melihat ada makanan yang berlimpah, yang lezat rasanya. Dia pun memanggil bapakku yang tidak jauh dari tempat itu untuk ikut serta makan. Karena rasa lapar yang tidak tertahankan mereka segera melahap makanan itu, namun beberapa saat kemudian mereka merasakan sakit perut yang hebat, dan mereka mati. Rupanya makanan tersebut sudah ditaburi racun oleh bangsa manusia biadab itu. Untung saat itu aku tidak ikut makan bersama mereka. Jadi aku masih sempat bercerita tentang kebiadaban bangsa manusia kepadamu.

Oh ya, aku punya janji malam ini untuk mengajak Minny pacarku, jalan-jalan. Jadi ceritanya dilanjutkan nanti saja. Matahari sudah tenggelam, tetangga-tetangga kami sudah mulai keluar, juga keluarga bangsa nyamuk, bangsa cicak dan bangsa serangga. Dan Minny pasti sudah menuggu aku saat ini. Aku ajak kamu menemui dia yuk! Nah, itu dia Minny.

“Hallo sayang, sudah lama nunggunya?”

“Begitulah, aku sudah tidak sabar main kejar-kejaran dengan kamu, Mick!” Minny mencium hidungku.

“Aku pun sudah tidak sabar ingin bercinta dengan kamu,” aku semakin gemas dibuatnya, ”Aku sudah tidak sabar mencumbuimu, Minny.” Nafsu birahiku memuncak.

Di dunia kami, soal bercinta, main cium-ciuman dan sebagainya tidak dilarang. Dan kami bebas melakukan apa saja pada lawan jenis, tanpa harus ada ikatan perkawinan terlebih dahulu, asal suka sama suka. Aku dengar di dunia bangsa manusia tidak begitu. Bangsa manusia harus menikah dahulu sebelum bebas melakukan ciuman, apalagi berhubungan kelamin. Tapi anehnya kelakuan bangsa manusia lebih parah daripada kami. Mereka memperkosa lawan jenis untuk melampiaskan nafsunya. Mereka membunuh anaknya yang susah payah dilahirkannya, bahkan banyak yang membunuh anaknya yang masih di dalam kandungan. Bahkan sudah jamak yang berhubungan kelamin dengan sesama jenis (jantan dengan jantan, betina dengan betina). Dan semua itu tidak pernah dikenal di dunia bangsa kami. Tidak ada bangsa tikus menggugurkan kandungannya, tidak ada banga tikus pemerkosa, dll.

“Mick, aku tadi melihat bangsa manusia habis pesta. Kita cari sisa-sisanya yuk!” ajak Minny.

“Tapi Minny, kita harus hati-hati. Jangan sampai kepergok Thomas, apalagi Pluto, kita bisa habis dimangsanya.”

Dan kami pun mulai mengendap-endap menuju tempat di mana bangsa manusia-manusia itu menaruh sisa-sisa makanannya. Dan aroma harum mulai mengoda penciuman kami.

“Hati-hati Minny, jangan-jangan ada jepretannya.”

Minny menggeleng, ”Aman!”

“Dicium dulu, jagan-jngan sudah ditaburi racun.” Memang kami harus waspada penuh, kami harus curiga kalau ada makanan seperti ini, karena bangsa manusia terkenal dengan banyak akal busuknya.

“Tidak terdeteksi ada racunnya, aman kok, Mick.” Minny mengendus-endus makanan itu.

“Bagaimana Mick?” Minny memandang ke arahku. ”Tidak ada Thomas dan Pluto kan?” tanyanya.

Aku mengawasi sekeliling, ”Aman!”

Minny sekali lagi mengendus dan kemudian menyikat makanan itu, sedang aku mengawasi dari tempat yang agak jauh, berjaga-jaga. Walaupun sudah ngiler juga melihat makanan enak itu.

“Tidak ikut makan, Mick?”

“Gantian, aku jaga-jaga dulu, jangan dihabiskan!”

Namun tiba-tiba selagi enak-enaknya makan….Juppp!!! Sebuah anak panah memanggang tubuh Minny. Dia menjerit kesakitan. Dan aku mendengar ada suara bangsa manusia tertawa-tawa di kejauhan sana, mereka merayakan kemenangan. Minny sekarat! Aku tidak dapat berbuat banyak untuk menolong Minny. Aku segera lari. Aku tidak mau mati konyol. Mungkin menurutmu aku ini pengecut. Aku tidak mempunyai kesetiaan terhadap seorang pacar. Meninggalkannya dalam keadaan sekarat. Namun aku harus selamat. Bukankah aku masih mempunyai tugas lain, tugas yang lebih mulia, yaitu mencaritakan semua kejadian ini kepadamu.

Beginilah nasib bangsa kami.

Nasib serupa pun menimpa tetangga-tetangga kami. Bangsa nyamuk misalnya, mereka tidak kalah dimusuhinya oleh bangsa manusia. Diasapi dengan asap beracun, disemprot dengan cairan beracun, dipukuli dengan raket bertegangan listrik dan seribu cara lain untuk mengenyahkan keluarga bangsa nyamuk tersebut. Tidak hanya itu, bahkan keluarga bangsa kuman, yang tidak kelihatan mata pun juga menjadi target si bangsa manusia untuk dimusnahkan. Belum lagi keluarga bangsa kecoa, keluarga bangsa cecak dan bangsa semut. Benar-benar kejam sekali si bangsa manusia itu. Mengapa mereka tidak mau berbagi? Mengapa mereka tidak mau hidup rukun berdampingan dengan mahluk-mahluk yang lemah.

Sebenarnya bangsa manusia itu tidaklah lebih bersih dari bangsa kami. Mereka menganggap bangsa kami kotor, karena mereka tidak bercermin dan tidak mengetahui kalau bangsa mereka lebih kotor. Mereka menganggap kami sumber penyakit, tapi sebenarnya bangsa merekalah penyabar penyakit yang maha nenakutkan. Mereka menganggap bangsa kami pencuri. Dan memang harus kami akui, bangsa kami sangat ahli dalam mencuri. Tapi sebenarnya mereka biang rajanya pencuri. Yang mereka curi bermilyard kali lebih banyak, bertriliyun kali lebih banyak. Mereka bahkan menganggap hak teman sendiri sebagai haknya. Kerakusan bangsa mereka (bangsa manusia) labih parah daripada bangsa kami. Dan mereka tidak menyadari itu semua.

Oh ya, pada suatu kali aku sedang berjalan-jalan di ruang perpustakaan. Tentu kamu heran kenapa aku ke sana? Aku ingin mengetahui perkembangan peradaban bangsa manusia. Namun tanpa sengaja aku menemukan selembar koran, yang di dalamnya ada gambar bangsa kami (tikus). Dan ada tulisan besar-besar yang berbunyi “TIKUS-TIKUS PARLEMEN VS TIKUS-TIKUS BIROKRAT”. Dan aku tidak habis pikir, sejak kapan bangsa tikus duduk di kursi parlemen? Dan bagaimana bisa bangsa tikus menjadi birokrat?

Mereka (bangsa manusia) menganggap bangsa nyamuk sebagai bangsa penghisap darah mereka. Namun darah yang dihisap bangsa nyamuk belum ada apa-apanya sama sekali. Karena bangsa manusia itu sangat suka menghisap darah sesama manusia. Begitukah yang disebut mahluk yang mengaku mempunyai hati nurani? Mereka menganggap bangsa kecoa menjijikkan. Sebenarnya bangsa mereka lebih menjijikan. Mereka berbau busuk. Sayang, bangsa manusia itu tidak mencium bau busuknya sendiri. Begitu juga dengan bangsa rayap. Mereka dituduh telah menggerogoti pilar-pilar rumah dan tiang, dan bangsa rayap dangan besar hati mengakuinya. Lain halnya dengan bangsa manusia itu, mereka telah menggerogoti jalan aspal, besi jembatan, material bangunan dan lain-lain. Tapi mereka (bangsa manusia) tidak mau mengakuinya.

Malam sudah larut sekali. Perutku sudah terasa sangat lapar, karena seharian belum makan apa-apa. Sambil cerita, aku cari makan, ya?

Hmmm…aku mencium bau makanan. Arahnya dari sana, yuk temani aku! Tapi aku tidak melihat ada makanan. Jangan-jangan imajinasiku saja. Dan auwww…! tangan dan kakiku tidak dapat aku lepaskan. Rupanya ini perangkap. Aku terperangkap oleh lem. Mati aku!!

Maafkan aku ya? Aku harus mengakhiri ceritaku hanya sampai di sini. Aku akan mati seperti teman-temanku yang terperangkap jepretan, seperti bapak ibuku yang keracunan, seperti Minny, kekasihku yang terpanggang panah. Dan di atas kertas berperekat ini aku menyusul mereka. Dan Kami hanya berharap bangsa manusia sadar dan banyak berguru pada kami. Kami rukun dengan teman-teman kami, tapi mereka? Mereka bermusuhan dengan tetangganya, membunuh saudaranya, membantai anaknya. Bangsa manusia harus mulai bercermin pada bangsa kami. Siapa mereka sebenarnya. Kita semua adalah mahluk Tuhan. Yang harus saling mengasihi, saling menyayagi, saling berbagi dan kita saling membutuhkan. (*)

CERPEN

Dawai Hati Ladang Ilalang

Sebelum tubuhku terkonyak untuk menyambung nyawa, aku masih ingat sekelilingku merintih lirih menahan lapar, sedangkan perasaan batin boneka-boneka itu dengan jelas mengalami depresi puncak menanti kematian. Sampai benar-benar nyawanya dibetot bersama lahar memerah menggedor-gedor pintu gunung dari ketinggian.

Sehari sebelum malaikat nyawa memungut ruh suci yang dititipkan Tuhan padaku, alam masih saja meradang ganas. Seakan tidak peduli pada boneka-boneka Tuhan yang telah diberi peran oleh-Nya, secara perlahan-lahan nada-nada perkusi kematian mempercepat detak jantung boneka itu.

Terakhir aku masih sepertiga tubuh terbenam dalam galian gula-gula di ladang Wak Hasan. Nada-nada yang bertebaran keras menyebar kengerian, dengan datar ku tangkap sebagai pesan Tuhan pada boneka-boneka wakil-Nya di kehidupan ini. Dengan latar sutra ungu kehijauan rona fatamorgana yang sepi, aku sama halnya dengan boneka-boneka atau Wak Hasan sekalipun, meregang menahan nasib antara hidup dan musnah, tapi aku tidak bisa menolak kehendak malaikat nyawa karena sepertiga tubuhku masih terbenam kaku dalam galian gula-gula di ladang Wak Hasan.

“Tanamanku semua…selama ini kau ku anggap anak sendiri. Tubuhku sudah menua dan kalianpun telah mampu merekahkan isi karena kaki lurus yang kalian miliki. Sesungguhnya aku kasihan begitu dalam…Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kecuali berharap ijin memetik daun berjari lima nan hijau darimu. Aku akan mengungsi…” Terakhir aku dengar Wak Hasan mengadu seakan kematian telah mendekati kami. Dan jasadku tertinggal sebagai onggokan bencana, mungkin.

***

Sehari-hari Wak Hasan hanya memberikan kami sarapan dari air sumur di samping kanan rumahnya. Rumah joglo tua berukuran 12×10 meter, berdinding kayu jati yang mulai pucat rona warnanya menahan cuaca begitu dingin pada temperatur 16 C. Tiap hari juga selalu ia memetik daun-daun hijau kami untuk menyambung nafas. Hampir-hampir memang itu yang dapat dikerjakan oleh boneka tua Tuhan dalam kesendirian.

Beberapa tahun yang lalu, Wak Hasan masih bahagia bersama istri dan dua orang anak yang dinantikannya hampir separoh usia pernikahanya, mereka biasa bermain di sela-sela tubuh bangsa kami di antara gundukan tanah di ladang keliling ilalang. Tiap hari, selalu ada di antara anak Wak Hasan itu mengantarkan ikan hasil pancingan dari sungai di sebelah barat rumah mereka. Lalu, sesekali yang lainnya menjual daun ketela pohon ke pasar menyusuri sungai yang memisahkan dua kawasan berbeda di Kabupaten Boyolali.

Bagi Wak Hasan kehidupan keseharian semacam itu cukup mencukupi sampai ia sudah berumur 71 tahun. Dengan ladang yang dulunya penuh ilalang, Wak Hasan mampu mencukupi kebutuhan sehari-harinya, mulai beras, gula, garam, bumbu dapur, cengkeh dan tambahan untuk lintingan penyumpal mulut, sampai kebutuhan yang paling penting adalah minyak tanah untuk menjadi pelita dalam menahan kegeritan malam yang buta.

Dalam waktu tidak lebih dari 30 menit, hari Minggu malam di bulan ke enam, sebuah utusan Tuhan atas boneka-boneka yang dijadikan wakil-Nya berupa luncuran awan menganga menjemput beribu-ribu ruh suci untuk dihadapkan pada Tuhan-Nya kembali. Seorang ibu yang sudah menunggu bertahun-tahun lahirnya anak, tewas tertimpa langit dan awan-awan lempung yang menggantung di rumahnya. Selain ibu, dua boneka manis karena gelengannya sesak dan perutnya dipaksa kempis menahan hawa panas di sekelilingnya, berputus harapan menghindar dari betotan nyawa malaikat Tuhan.

***

Beberapa hari kemudian, Pak RT, Pak RW, Pak Lurah, aparat kecamatan, aparat kabupaten, dan Pak Gubernur datang untuk menghibur Wak Hasan bersama teman-temannya di barak pengungsian. Mereka membawa beras, mie instant, selimut, terpal, dan beberapa obat ringan yang biasa dibutuhkan boneka-boneka Tuhan seperti Wak Hasan. Bagi Wak Hasan, kehidupan bertumpu pada bantuan orang lain dengan sendirinya memperkenalkan diri kepada kenistaan.

Bagi Wak Hasan, pengungsian dari rumah joglo tua berukuran 12×10 meter, beralaskan lembaran-lembaran buluh yang dirangkai sejajar-sejajar membentuk tikar paten di punggung bumi yang berada di barat Gunung Merapi, hanyalah salah satu ikhtiyar dengan cepat berlari dari Malaikat maut. Sekali lagi, hanyalah salah satu ikhtiyar berlari dari Malaikat maut.

”Kalau aku di sini terus, anak-anakku di ladang ilalang tentu akan meranggas menangisi dirinya menantang alam yang masih saja meradang panas, mengapa aku egois?” Begitu selalu yang direnungkannya selama beberapa hari di barak pengungsian. Dengan pakaian ”koko” dan berpeci tua dengan setelan sarung baru dari pembelian hasil Bantuan Langsung Tunai sebelumnya, Wak Hasan duduk persis di depan pemakaman umum, jauh dari rumah yang ditinggalkannya.

Sambil bercengkrama dengan boneka-boneka kacil milik Tuhan, Wak Hasan dan kumpulan boneka yang depresi puncak menanti kematian, kedatangan tiga rombongan tamu yang sama sekali asing di pelupuk mata tua Wak Hasan. Mereka bertopeng dengan gaya-gaya sandiwara laksana para aktor menunggu giliran di panggung pementasan, dengan perannya masing-masing.

cerpen-hamdan-copy.jpgKetika Wak Hasan berpapar dengan rombongan pertama, mereka berpakaian bagus, bersepatu mulus, berparfum wangi mendorong hidung mengendus-ngendus, dan sedang turun dari mobil berkaroseri moncong ke depan nampak seperti tikus. Wak Hasan kebingungan, banyak boneka seperti dirinya yang hanya mengenakan tumpukan kain bersulam kasar, jauh seperti yang telah menempel pada rombongan itu. Salah satu dari rombongan itu, Wak Hasan sangat mengenal sakali. Nama-nama mereka, Wak Hasan hanya mengenl satu saja. Tetapi, di balik kedatangan rombongan, Wak Hasan bergumam sendiri bahwa dirinya justru dijadikan panggung sandiwara oleh mereka. Menyedot ketenaran dan mengepul deras sampai menyembul ikon peduli kemanusiaan.

”Ya, ya, memang kami orang pengasingan, tetapi kami bukan tontonan.” buru-buru Wak Hasan pergi, meninggalkan panggung sandiwara berkedok peduli kemanusiaan. Sekali lagi berkedok peduli kemanusiaan.

Baru sebentar merebahkan diri menjauh dari pusat penampungan boneka-boneka Tuhan, rombongan berseragam hijau kotor yang oleh Wak Hasan tukang keamanan atau Hansip, juga datang. Mereka mengantarkan beberapa karung, yang Wak Hasan tidak perlu menduga apa isinya. Ada yang tersenyum lebar, bermuka kusut, sampai memerahkan rona matanya dan mengalirkan tetes-tetesan mengumpul dari sudut mata beberapa rombongan.

Wak Hasan cemberut, beberapa kali Wak Hasan pernah berurusan dengan mereka sebagai wujud menjadi warga negara yang bertanggung jawab. ”Mereka selalu berada di balik meja ketika bekerja, ada yang berkelakar lebar menggerombol seperti orang menyabung ayam di dalam kantor. Aku juga sering mengadu mengepul tebalkan awan putih dan lintingan yang menyumpal mulutku dengan mereka setiap mengurus surat. Mau apa mereka?”

”Terserah, kalau sadar syukurlah” batin Wak Hasan.

Terakhir Wak Hasan di pengasingan, warga semakin bosan dengan rutinitas yang sama. Tidur, istirahat, menanti bantuan. Padahal, sampai saat ini, boneka-boneka Tuhan yang terkenal gigih dan sangat menghargai alam adalah boneka yang berada di panggung bumi Wak Hasan biasa digendongnya. Sinar kebesaran telah meneteskan kehendak berani tak kembali mengurusi ladang ilalang dan hewan-hewan pembantu kebutuhan mereka.

***

Alam sudah tersenyum manis, lahar memerah yang biasanya menggedor-gedor pintu gunung dari ketinggian, kini tenang. Gunung yang berada di timur dari rumah joglo 12×10 meter, berhiaskan pohon jarak membatasi pekarangan, tempat Wak Hasan merebahkan tubuhnya, hanya tampak menggoda saja. Semburan awan yang dimainkan ke atas, hanya menyerupai sikap anak kecil memainkan air liur di antara dua bibir mungilnya.

Wak Hasan sekarang memahami, bahwa batas nafas yang dimiliki boneka-boneka Tuhan di dunia, sudah memiliki wadahnya sendiri. Ia juga sadar kalau kemampuan manusia memang lebih jauh kurang untuk memahami rahasia alam. Dengan mengucapkan Bismillah Tawakkaltu ala Allah, La Haula Wala Quwwata Illa Bil Allah, Wak Hasan memenuhi anak-anak asuhnya di ladang ilalang.

***

Baru sebentar dia mengayunkan cangkul untuk menyiangi ilalang yang menggangguku, semua telah berubah. Wak Hasan tidak tahu kalau Malaikat nan bersih telah mengantongi absen ruh kadaluarsa untuk dibawa melayang melewati liku-liku pertanggungjawaban awalnya selama ini.

Aku tak sanggup membayangkan aksi atraktif yang ditunjukkan Tuhan dengan menggoncangkan punggung Ngayogyakarta Hadiningrat pada ukuran 5,9 Skala Richter. Di sana ada rumah kayu berantakan memenuhi tanah lapangan di samping kiriku. Aku juga tidak tahu, rupanya ruhku meloncat-loncat ke seluruh tubuhku.

Tidak lama kemudian, apa yang telah dipahami Wak Hasan sebelumnya, kini baru dapat aku pahami. Memang nyawa, ada batas akhirnya tanpa harus kaget walau secepat yang dihadapi Wak Hasan.

Senin, 15 Desember 2008

IN a NIGHT........!!!!!

Suatu malam aku sendirian tanpa adanya seorang teman.Saat itu cuaca buruk.Angin bertiup kencang kemudian mendung berganti hujan.Hatiku semakin gak karuan.Dan aku bertanya-tanya dalam hatiku ada apa gerangan yang akan terjadi.Tapi aku gak pedulikan semua itu,mungkin saja hanya gejala alam.
Stelah itu aku duduk diteras.Tapi gak tau tiba-tiba hatiku trus gelisah,pikiranku serba salah,jantung berdebar-debar dan kakiku slalu gemetar.Semakin gak tahan aku dan semakin tersiksa aku menahan semua itu.Lalu aku teringat kekasihku,ingin ceritakan semua resahku.
Aku segera bergegas kerumahnya tanpa beritahukan ke dia bahwa aku akan datang menemuinya.Setelah tiba dirumahnya,hatiku semakin gak karuan lagi.Tanpa melihat keadaan sekitar,aku langsung masuk saja kerumah.Betapa kagetnya aku melihat kamu sedang berduaan dengan seorang cowok.Tanpa berpikir panjang aku langsung putusin dia.
Itulah sebuah malam yang sangat takku harapkan ada didalam hidupku....

Senin, 08 Desember 2008

first journey by PlanE....

Pada suatu liburan semester,saat aku masih duduk dibangku SMP,aku berlibur di rumah kelurgaku di Kalimantan.Saat itu cuaca dilaut sangat buruk,sehingga tidak memungkinkan pergi dengan kapal.Aku memutuskan pergi menggunakan pesawat terbang saja.
Setelah memesan tiket dan jadwal hari terbang tiba,aku bergegas berangkat ke Bandara.Setelah tiba di bandara aku langsung masuk dan chek-in untuk mendapatkan bangku tempat duduk.Waktu itu bukan harai keberuntunganku,karena aku mendapatkan bangku nomor 14.Di bangku itu berada tepat sebelah
sayap pesawat,sehingga jika pesawat terbang dan aku ingin melihat pemandangan dibawah terhalang oleh sayap pesawat tersebut.
Setelah jadwal terbang tiba,aku bersama penumpang lainnya masuk ke pesawat yang akan kami tumpamgi.Di dalam pesawat aku di jamu berbagi fasilitas yang ada didalam pesawat.Pramugari peraga tata cara di dalam pesawat memeragakan bagaimana cara memakai sabuk pengaman memakai pelampung dan masih banyak lannya.Setelah kurang lebih 1 jam,aku tiba di bandara Balikpapan.Turun dari pesawat,aku langsung dijemput oleh Ayahku.Setelah bertemu kami langsung naik mobil dan melanjutkan perjalanan kerumah yang berada di Samarinda.
Kurang lebih 2 jam perjalanan,akhirnya tibalah aku di rumah.Setibanya di rumah,aku langsung melepaskan rinduku dengan keluarga lainnya yang sudah menantiku.Setelah kurasa selesai bercakap-cakap dengan orang-orang,aku langsung bergegas tidur karena capek sekali.