Senin, 22 Desember 2008

CERPEN

Dawai Hati Ladang Ilalang

Sebelum tubuhku terkonyak untuk menyambung nyawa, aku masih ingat sekelilingku merintih lirih menahan lapar, sedangkan perasaan batin boneka-boneka itu dengan jelas mengalami depresi puncak menanti kematian. Sampai benar-benar nyawanya dibetot bersama lahar memerah menggedor-gedor pintu gunung dari ketinggian.

Sehari sebelum malaikat nyawa memungut ruh suci yang dititipkan Tuhan padaku, alam masih saja meradang ganas. Seakan tidak peduli pada boneka-boneka Tuhan yang telah diberi peran oleh-Nya, secara perlahan-lahan nada-nada perkusi kematian mempercepat detak jantung boneka itu.

Terakhir aku masih sepertiga tubuh terbenam dalam galian gula-gula di ladang Wak Hasan. Nada-nada yang bertebaran keras menyebar kengerian, dengan datar ku tangkap sebagai pesan Tuhan pada boneka-boneka wakil-Nya di kehidupan ini. Dengan latar sutra ungu kehijauan rona fatamorgana yang sepi, aku sama halnya dengan boneka-boneka atau Wak Hasan sekalipun, meregang menahan nasib antara hidup dan musnah, tapi aku tidak bisa menolak kehendak malaikat nyawa karena sepertiga tubuhku masih terbenam kaku dalam galian gula-gula di ladang Wak Hasan.

“Tanamanku semua…selama ini kau ku anggap anak sendiri. Tubuhku sudah menua dan kalianpun telah mampu merekahkan isi karena kaki lurus yang kalian miliki. Sesungguhnya aku kasihan begitu dalam…Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kecuali berharap ijin memetik daun berjari lima nan hijau darimu. Aku akan mengungsi…” Terakhir aku dengar Wak Hasan mengadu seakan kematian telah mendekati kami. Dan jasadku tertinggal sebagai onggokan bencana, mungkin.

***

Sehari-hari Wak Hasan hanya memberikan kami sarapan dari air sumur di samping kanan rumahnya. Rumah joglo tua berukuran 12×10 meter, berdinding kayu jati yang mulai pucat rona warnanya menahan cuaca begitu dingin pada temperatur 16 C. Tiap hari juga selalu ia memetik daun-daun hijau kami untuk menyambung nafas. Hampir-hampir memang itu yang dapat dikerjakan oleh boneka tua Tuhan dalam kesendirian.

Beberapa tahun yang lalu, Wak Hasan masih bahagia bersama istri dan dua orang anak yang dinantikannya hampir separoh usia pernikahanya, mereka biasa bermain di sela-sela tubuh bangsa kami di antara gundukan tanah di ladang keliling ilalang. Tiap hari, selalu ada di antara anak Wak Hasan itu mengantarkan ikan hasil pancingan dari sungai di sebelah barat rumah mereka. Lalu, sesekali yang lainnya menjual daun ketela pohon ke pasar menyusuri sungai yang memisahkan dua kawasan berbeda di Kabupaten Boyolali.

Bagi Wak Hasan kehidupan keseharian semacam itu cukup mencukupi sampai ia sudah berumur 71 tahun. Dengan ladang yang dulunya penuh ilalang, Wak Hasan mampu mencukupi kebutuhan sehari-harinya, mulai beras, gula, garam, bumbu dapur, cengkeh dan tambahan untuk lintingan penyumpal mulut, sampai kebutuhan yang paling penting adalah minyak tanah untuk menjadi pelita dalam menahan kegeritan malam yang buta.

Dalam waktu tidak lebih dari 30 menit, hari Minggu malam di bulan ke enam, sebuah utusan Tuhan atas boneka-boneka yang dijadikan wakil-Nya berupa luncuran awan menganga menjemput beribu-ribu ruh suci untuk dihadapkan pada Tuhan-Nya kembali. Seorang ibu yang sudah menunggu bertahun-tahun lahirnya anak, tewas tertimpa langit dan awan-awan lempung yang menggantung di rumahnya. Selain ibu, dua boneka manis karena gelengannya sesak dan perutnya dipaksa kempis menahan hawa panas di sekelilingnya, berputus harapan menghindar dari betotan nyawa malaikat Tuhan.

***

Beberapa hari kemudian, Pak RT, Pak RW, Pak Lurah, aparat kecamatan, aparat kabupaten, dan Pak Gubernur datang untuk menghibur Wak Hasan bersama teman-temannya di barak pengungsian. Mereka membawa beras, mie instant, selimut, terpal, dan beberapa obat ringan yang biasa dibutuhkan boneka-boneka Tuhan seperti Wak Hasan. Bagi Wak Hasan, kehidupan bertumpu pada bantuan orang lain dengan sendirinya memperkenalkan diri kepada kenistaan.

Bagi Wak Hasan, pengungsian dari rumah joglo tua berukuran 12×10 meter, beralaskan lembaran-lembaran buluh yang dirangkai sejajar-sejajar membentuk tikar paten di punggung bumi yang berada di barat Gunung Merapi, hanyalah salah satu ikhtiyar dengan cepat berlari dari Malaikat maut. Sekali lagi, hanyalah salah satu ikhtiyar berlari dari Malaikat maut.

”Kalau aku di sini terus, anak-anakku di ladang ilalang tentu akan meranggas menangisi dirinya menantang alam yang masih saja meradang panas, mengapa aku egois?” Begitu selalu yang direnungkannya selama beberapa hari di barak pengungsian. Dengan pakaian ”koko” dan berpeci tua dengan setelan sarung baru dari pembelian hasil Bantuan Langsung Tunai sebelumnya, Wak Hasan duduk persis di depan pemakaman umum, jauh dari rumah yang ditinggalkannya.

Sambil bercengkrama dengan boneka-boneka kacil milik Tuhan, Wak Hasan dan kumpulan boneka yang depresi puncak menanti kematian, kedatangan tiga rombongan tamu yang sama sekali asing di pelupuk mata tua Wak Hasan. Mereka bertopeng dengan gaya-gaya sandiwara laksana para aktor menunggu giliran di panggung pementasan, dengan perannya masing-masing.

cerpen-hamdan-copy.jpgKetika Wak Hasan berpapar dengan rombongan pertama, mereka berpakaian bagus, bersepatu mulus, berparfum wangi mendorong hidung mengendus-ngendus, dan sedang turun dari mobil berkaroseri moncong ke depan nampak seperti tikus. Wak Hasan kebingungan, banyak boneka seperti dirinya yang hanya mengenakan tumpukan kain bersulam kasar, jauh seperti yang telah menempel pada rombongan itu. Salah satu dari rombongan itu, Wak Hasan sangat mengenal sakali. Nama-nama mereka, Wak Hasan hanya mengenl satu saja. Tetapi, di balik kedatangan rombongan, Wak Hasan bergumam sendiri bahwa dirinya justru dijadikan panggung sandiwara oleh mereka. Menyedot ketenaran dan mengepul deras sampai menyembul ikon peduli kemanusiaan.

”Ya, ya, memang kami orang pengasingan, tetapi kami bukan tontonan.” buru-buru Wak Hasan pergi, meninggalkan panggung sandiwara berkedok peduli kemanusiaan. Sekali lagi berkedok peduli kemanusiaan.

Baru sebentar merebahkan diri menjauh dari pusat penampungan boneka-boneka Tuhan, rombongan berseragam hijau kotor yang oleh Wak Hasan tukang keamanan atau Hansip, juga datang. Mereka mengantarkan beberapa karung, yang Wak Hasan tidak perlu menduga apa isinya. Ada yang tersenyum lebar, bermuka kusut, sampai memerahkan rona matanya dan mengalirkan tetes-tetesan mengumpul dari sudut mata beberapa rombongan.

Wak Hasan cemberut, beberapa kali Wak Hasan pernah berurusan dengan mereka sebagai wujud menjadi warga negara yang bertanggung jawab. ”Mereka selalu berada di balik meja ketika bekerja, ada yang berkelakar lebar menggerombol seperti orang menyabung ayam di dalam kantor. Aku juga sering mengadu mengepul tebalkan awan putih dan lintingan yang menyumpal mulutku dengan mereka setiap mengurus surat. Mau apa mereka?”

”Terserah, kalau sadar syukurlah” batin Wak Hasan.

Terakhir Wak Hasan di pengasingan, warga semakin bosan dengan rutinitas yang sama. Tidur, istirahat, menanti bantuan. Padahal, sampai saat ini, boneka-boneka Tuhan yang terkenal gigih dan sangat menghargai alam adalah boneka yang berada di panggung bumi Wak Hasan biasa digendongnya. Sinar kebesaran telah meneteskan kehendak berani tak kembali mengurusi ladang ilalang dan hewan-hewan pembantu kebutuhan mereka.

***

Alam sudah tersenyum manis, lahar memerah yang biasanya menggedor-gedor pintu gunung dari ketinggian, kini tenang. Gunung yang berada di timur dari rumah joglo 12×10 meter, berhiaskan pohon jarak membatasi pekarangan, tempat Wak Hasan merebahkan tubuhnya, hanya tampak menggoda saja. Semburan awan yang dimainkan ke atas, hanya menyerupai sikap anak kecil memainkan air liur di antara dua bibir mungilnya.

Wak Hasan sekarang memahami, bahwa batas nafas yang dimiliki boneka-boneka Tuhan di dunia, sudah memiliki wadahnya sendiri. Ia juga sadar kalau kemampuan manusia memang lebih jauh kurang untuk memahami rahasia alam. Dengan mengucapkan Bismillah Tawakkaltu ala Allah, La Haula Wala Quwwata Illa Bil Allah, Wak Hasan memenuhi anak-anak asuhnya di ladang ilalang.

***

Baru sebentar dia mengayunkan cangkul untuk menyiangi ilalang yang menggangguku, semua telah berubah. Wak Hasan tidak tahu kalau Malaikat nan bersih telah mengantongi absen ruh kadaluarsa untuk dibawa melayang melewati liku-liku pertanggungjawaban awalnya selama ini.

Aku tak sanggup membayangkan aksi atraktif yang ditunjukkan Tuhan dengan menggoncangkan punggung Ngayogyakarta Hadiningrat pada ukuran 5,9 Skala Richter. Di sana ada rumah kayu berantakan memenuhi tanah lapangan di samping kiriku. Aku juga tidak tahu, rupanya ruhku meloncat-loncat ke seluruh tubuhku.

Tidak lama kemudian, apa yang telah dipahami Wak Hasan sebelumnya, kini baru dapat aku pahami. Memang nyawa, ada batas akhirnya tanpa harus kaget walau secepat yang dihadapi Wak Hasan.

Tidak ada komentar: